Kamis, Oktober 17Kabar60 | Inspirasi Pembangun Bangsa

Makara Ditemukan Warga Padang Nunang, Nurmatias : Diduga Peninggalan Dari Abad 13 – 14 Masehi.

400 Views

Makara yang ditemukan warga didasar Sungai Sibanail, Kampung Padang Nunang, Kecamatan Rao Selatan, Pasaman. (ist)

PASAMAN, Kabar60.com – Sebuah artefak terbuat dari batu dengan tinggi 95 cm dan lingkar 177 cm di ditemukan warga di dasar Sungai Batang Sibanail, Kampung Padang Nunang, Nagari Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat, Jum’at (27/9/2019) sekitar pukul 16.00 Wib.

Penemuan oleh warga itu sempat membuat heboh masyarakat disekitar tersebut. Sehingga, menjadi perbincangan misterius dan berhistori ditengah-tengah masyarakat.

Mendengar penemuan itu, seperti dikutif dari media online Covesia.com, Sabtu (28/9/2019), Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat (Sumbar), mengirim tim untuk melakukan pengamatan langsung kelapangan.

“Benda yang ditemukan Ipal dan Aad warga Padang Nunang itu merupakan Makara atau arca apda zaman tinggalan Hindu-Budha di Kabupaten Pasaman,” kata Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar, Nurmatias kepada Covesia.com.

Dijelaskan Nurmatias, Makara yang ditemukan itu berbentuk gaja-mina (Kombinasi ikan dengan gajah). “Ini data yang berhasil diperoleh dari berbagai sumber,” ujarnya.

Diuraikannya juga, dari hasil observasi dilapangan, makara yang berukuran 95 Cm tingginya itu terbuat dari bahan Sandstone (Batu pasir) yang banyak ditemukan di aliran Sungai Batang Sibinail.

“Dari morfologi, makara ini berbentuk kepala binatang dengan mulut terbuka lebar,” sebutnya.

Dilihat dari samping kata Nurmatias, digambarkan lengkungan belalai (gajah) yang hiasai motif flora, bagian atas  bulat membentuk ukel ke bawah. Penggambaran mata terkesan mata sipit dan telinga melengkung menyerupai kipas.

“Di atas makhluk yang berada di dalam mulut dipahatkan bentuk bunga dan benangsari. Pada sisi kiri dan kanan, terdapat beberapa motif hias sulur-suluran berbentuk lingkaran menyerupai kipas. Pada bagian dalam mulutnya, terlihat pengambaran figur manusia yang sedang memegang senjata di tangan kanan dan perisai di tangan kiri dan posisi berdiri,” lebih jelasnya.

Dari semua itu, ditarik kesimpulan awal bahwa makara itu merupakan tinggalan dari masa Hindu-Buddha yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 sampai dengan 14 Masehi.

“Hal ini didukung oleh data Prasasti Lubuk Layang (Kubu Sutan) yang ditemukan tahun 1970-an. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, isi dari prasasti tersebut adalah penyebutan Bijayawarmma, seorang yauwasuta Jayendrawarmma, moksam, yauwaraja Bijayendrasekhara, pitamahadara dan Śrī Indrakilaparwatapuri,” sebutnya juga.

Prasasti ini dibuat untuk memperingati pembinaan kuil pemujaan nenek moyang dari raja yang memerintah, yaitu Bijayawarmma. Terdapat seorang yuwaraja (Raja muda) yang bernama Jayendrawarnan, beliau digambarkan memiliki sifat selayaknya Dewa/Buddha. Menelisik pada temuan sebelumnya, temuan Arca Dwarapala dan Makara, menunjukkan adanya keterkaitan.

“Karena pada umumnya, Arca Dwarapala dan Makara ditempatkan pada bagian depan candi, tepatnya di sisi kanan dan kiri bangunan candi. Bangunan candi yang terdapat khususnya di Rao diperkirakan berlatar agama Buddha aliran Tantrayana,” katanya.

Tantrayana adalah salah satu sekte dalam agama Buddha yang berkembang di Sumatera khususnya pada masa Adityawarman. Arca Dwarapala ditempatkan di depan bangunan candi sebagai area penjaga, ditunjukkan dengan ciri-ciri peralatan yang dipegang oleh tangan kanannya yaitu sebuah gada.

“Adapun laksana di tangan kirinya tidak diketahui karena sudah aus. Di bahu area tersebut juga terdapat upawita (tali kasta) berupa seekor ular. Laksana yang dipakai adalah sesuatu yang menyeramkan mengingat fungsi area tersebut sebagai area penjaga agar bangunan suci terhindar dari unsur-unsur yang tidak dikehendaki,” jelasnya.

Di bagian atas, katanya, Makara biasanya berasosiasi dengan kala yang diletakkan pada bagian atas pintu masuk bangunan candi. Kala-makara merupakan simbolisasi dari persatuan dari penguasa gunung (kala) dan laut (makara). Menelisik lebih jauh bahwa penggambaran figur manusia untuk mulut makara banyak ditemukan pada  makara-makara candi Masa Sriwijaya.

“Tetapi jenisnya berbeda-beda ada yang berbentuk figur prajurit (Padang Lawas, Padang Nunang), figur penjaga (candi Solok Sipin), da figur resi (makara candi di Bumiayu). Temuan figur prajurit dengan membawa senjata dan perisai ini juga ditemukan di makara-makara di Percandian Padang Lawas, figur penjaga yang memegang gada ditemukan di Candi Solok Sipin,” tambahnya. 

Dia menambahkan, dari data awal di atas, dirasa masih perlu dilakukan pelindungan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat, kata Nurmatias.

Pihaknya sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah koordinasi Direktorat Jenderal Kebudayaan mempunyai  tugas  melaksanakan  pelindungan,  pengembangan,  dan pemanfaatan serta fasilitasi pelestarian Cagar Budaya di wilayah kerjanya yang meliputi Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Kemudian, merujuk pula pada Undang-Undang  Nomor  11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dalam Pasal 23 ayat 3 bahwa instasi yang berwenang di bidang kebudayaan melakukan pengkajian terhadap temuan didasarkan pada laporan baik laporan dari instansi kebudayaan di Pasaman dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam hal ini Kapolres Pasaman, dan instansi terkat lainnya. Pengkajian yang dimaksud diawali dengan bentuk kegiatan penjajakan atau survei penyelamatan.

“Survei penyelamatan sesuai dengan Pasal 58 ayat 1  bahwa Penyelamatan Cagar Budaya dilakukan untuk (a) mengecegah kerusakan karena faktor manusia dan/atau alam yang mengakibatkan berubahnya keaslian dan nilai-nilai yang menyertainya; dan (b) mencegah pemindahan dan beralihanya kepemilikan dan/atau penguasa Cagar Budaya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,” jelasnya.

Berpijak dari hal tersebut, lanjut Nur, maka BPCB Sumatera Barat akan melakukan penjajakan dan survei yang nantinya akan mengumpulkan seluruh data baik mengenai riwayat penemuan, identitas penemu, data arkeologis, dan data teknis lainnya.

“Dari data yang dikumpulkan dari penjajakan dan survei penyelamatan nantinya akan sebagai acuan dan landasan dalam melakukan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan temuan makara di Padang Nunang tersebut di masa yang akan datang dengan selalu berlandaskan Undang-Undang  Nomor  11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya,” pungkasnya.

Sumber – Covesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: